AHLAN WA SAHLAN, SALAM SYIAR

doa rukyah

Tanya : rukiyah apa rukyah, pengobatan dgn doa?
Minta dasar hukum dan kedudukanya ustadz, ana awam tp pernah menyaksikan.mohon diperjelas. Nida Fitria Ciamis Buniseuri
Jawab : Dalam kamus Al Muhith ا لر قية (dhamah nun) mempunyai arti berlindung diri. Bentuk jamaknya adalah ر قى . Begitu juga dalam Al Mishbah Al Munir ر قى رقيا dari bab ر مى yang artinya berlindung diri kepada Allah swt.
Berkata Ibnu al-Atsir dalam An Nihayah fii Ghariibi Al Hadits (2/254) bahwa Ruqyah artinya berlindung diri dimana orang yang memiliki penyakit itu diruqyah seperti demam dan kerasukan serta penyakit-penyakit lainnya. Disebutkan dalam “Lisan Al Arabi” (5/293): ا لعوذة (berlindung diri), bentuk jamaknya adalahر قي dan bentuk masdar (dasarnya) adalah ر قيا و ر قية و ر قيا jika dia berlindung diri dengan cara meniupkan.
Ruqyah adalah membacakan ayat-ayat Al-Qur`an atau doa-doa perlindungan yang shahih dalam sunnah kepada orang yang sakit, yang dalam pembacaannya disertai dengan an-nafts (tiupan disertai sedikit ludah) atau membasuhkan tangan ke bagian tubuh yang terkena sakit. Ruqyah ini bisa dilakukan dengan cara apa saja sepanjang cara itu bukanlah kesyirikan. ‘Auf bin Malik Al Asyja’i berkata;
كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ
“Kami biasa melakukan ruqyah pada masa jahiliyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah! bagaimana pendapatmu tentang ruqyah?’ beliau menjawab, “Peragakanlah cara ruqyah kalian itu kepadaku. Tidak ada masalah dengan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim no. 4079)
Hanya saja tentunya pembolehan semua bentuk ruqyah ini, selain harus terlepas dari syirik, dia juga harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Karenanya tidak diperbolehkan seseorang memunculkan cara-cara baru dalam meruqyah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi saw. seperti meruqyah dengan adzan dll.
Sungguh Nabi saw telah meruqyah sebagaimana dalam hadits-hadits di atas, dan beliau pun menganjurkan untuk meruqyah. Dari Jabir ra dia berkata:
“Rasulullah saw pernah melarang melakukan ruqyah. Lalu datang keluarga ‘Amru bin Hazm kepada beliau seraya berkata; ‘Ya Rasulullah! Kami mempunyai cara ruqyah untuk gigitan kalajengking. Tetapi anda melarang melakukan ruqyah. Bagaimana itu? ‘ Lalu mereka peragakan cara ruqyah mereka di hadapan beliau. Maka beliau bersabda: ‘Ini tidak apa-apa. Barangsiapa di antara kalian yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah dia melakukannya.” (HR. Muslim no. 4078)
Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan pelet adalah kesyirikan.” (HR. Abu Daud no. 3385, Ibnu Majah no. 3521, dan Ahmad no. 3433)
Ruqyah bermakna membaca, dan yang ruqyah yang terlarang dalam hadits ini adalah membaca selain dari Al-Qur`an dan doa-doa yang shahih, yang doanya mengandung ibadah (meminta bantuan dan perlindungan) kepada selain Allah Ta’ala
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
“Nabi saw mengizinkan ruqyah dari sengatan semua hewan berbisa.” (HR. Al-Bukhari no. 5741 dan Muslim no. 2196)
Dari Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata:
“Sesungguhnya Nabi saw meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan mu’awwidzat (doa-doa perlindungan/ta’awudz) ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Dan tatkala sakit beliau semakin parah, sayalah yang meniup beliau dengan mu’awwidzat tersebut dan saya megusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berkahnya kedua tangan beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5735 dan Muslim no. 2192)
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata:
“Apabila Rasulullah saw pernah menjenguk orang sakit atau ada orang yang sakit dibawa kepada beliau, beliau berdo’a: “ADZHIBIL BA`SA RABBAN NAASI ISYFII WA ANTA SYAAFI LAA SYIFAA`A ILLA SYIFAA`UKA SYIFAA`A LAA YUGHAADIRU SAQAMA (Hilangkanlah penyakit wahai Rab sekalian manusia, sembuhkanlah wahai Zat Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan dari-Mu, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit setelahnya).” (HR. Al-Bukhari no. 5243, 5301, 5302, 5309 dan Muslim )
Dalam sebuah riwayat Al-Bukhari:
 “Apabila salah seorang di antara kami sakit, Rasulullah saw mengusapnya dengan tangan kanan, lalu beliau mengucapkan: ‘Adzhabil ba’sa …
Disamping itu Nabi saw sendiri saat sedang sakit pernah di ruqyah oleh Malaikat Jibril, dan ada beberapa contoh lagi lainnya yang memberikan isyarat tentang adanya ruqyah, termasuk ketika Nabi meruqyah Hasan dan Husain. Dan sebagai kesimpulan saya kutip Keputusan Dewan Hisbah tentang Ruqyah :
1.    Ruqyah dalam arti dan melindungkan diri dengan kalimat (do’a pen.) yang manshuh (diucapkan oleh Nabi saw) atau susunan sendiri disyariatkan
2.    Ruqyah dalam arti jimat dan jampi-jampi sekalipun menggunakan ayat al-Quran adalah syirik. Allohu A’lam
Baca »

Doa Sakit & Menjenguk Orang Sakit

 Tanya : Assalamu’alaikum … ustadz Abu Alifa yang saya hormati, mohon tuntunan do’a saat sakit atau saat menjenguk orang sakit! Apakah dibolehkan berdo’a dengan bahasa yang kita fahami (Indonesia)? Syukran. Wassalam

Jawab : Wa’alaikumussalam … pada dasarnya do’a yang kita panjatkan adalah keinginan dan harapan kita. Baik itu do’a untuk diri sendiri, keluarga, atau sesame. Baik sedang sehat atau dikala sakit. Artinya tidak menjadi masalah apakah do’a itu dengan bahasa Arab, Indonesia atau bahasa daerah. Hanya tentu do’a yang dicontohkan dan dipraktekan Nabi saw itu lebih utama, termasuk saat sakit atau menjenguk orang yang sakit. Dibawah ini ada beberapa do’a yang pernah dicontohkan Nabi saw, baik saat beliau menjenguk orang sakit atau yang seharus dilakukan oleh orang sakit sendiri.

“…Jika Rasulullah saw. mendatangi salah seorang keluarganya yang tengah sakit, beliau akan mengusap-usap si sakit dengan tangan kanannya sambil membaca doa, “Allahuma Rabbanâ adz hibil ba’sa isyfi Anta syâfi’ la syifâ’an illâ syifâuka, syifâ’an lâ yughâdiru saqaman; Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, hilangkanlah segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali (kesembuhan) dari-Mu, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi’.” (HR Bukhari dan Muslim dari Siti Aisyah ra)

Abu Abdillah bin Abil Ash pernah mengeluhkan penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian berkata kepada Abu Abdillah, “Letakkanlah tanganmu di tempat yang sakit, lalu bacalah basmallah (tiga kali), kemudian bacalah, ‘A’ûdzu bi izzatillâhi wa qudratihi min syarri mâ ajidu wa uhâ dzîru’(tujuh kali); Aku berlindung pada kemuliaan dan kekuasaan Allah dari bahaya yang aku rasakan dan aku khawatirkan’.” (HR Muslim)

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Ketika Rasulullah saw. menjengukku, beliau berdoa, ‘Allahumma syâfi’ Sa’dan, Allahumma syâfi’ Sa’dan, Allahumma syâfi’ Sa’dan’; Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad; ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad; ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad’.” (HR Muslim)

Rasulullah saw. pernah menjenguk seorang Arab gunung (Badui). Seperti biasanya, setiap kali Rasulullah saw. menjenguk orang sakit, beliau berkata, “La ba’sa, thahûrun insya Allah; Tidak apa-apa. Semoga penyakit ini menjadi pembersih dari dosa-dosa, insya Allah.” (HR Bukhari dari Ibn Abbas ra). Allohu A’lam

Baca »

Majalah BUSYRA Edisi 4, Juli 2013

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu alaikum wr.wb

 Puji syukur atas kehadirat Sang pencipta yang maha kuasa, yang memberi kita rahmat serta inayah-Nya, yakni Allah SWT. Shalawat serta salam tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw yang menjadi panutan dan memberi contoh akhlak yang baik.

 Alhamdulillah, edisi Juli ini kami akhirnya bisa menjadi bacaan shaahibul BUSYRA. Tentunya banyak kekurangan dalam karya kami ini namun,  kami akan berusaha sekeras mungkin untuk memberikan yang terbaik kami agar pembaca tidak bosan untuk membacanya dan menjadi tertarik untuk terus mengikuti terbitan buletin kami berikutnya.  Mudah-mudahan kami dapat memberikan informasi yang akurat dan sesuai dengan apa yang shaahibul inginkan mengenai sekolah kami ini, yaitu Pondok Pesantren Moderen Rahmatul Asri, amiiiiiiiiin.............!!!

Ucapan terimah kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada bapak ketua yayasan PPM Rahmatul Asri, pimpinan pondok, ustad-ustadzah pembina serta teman-teman sekalian atas partisipasinya dalam penerbitan buletin ini.



Redaksi BUSYRA

 


Baca »

Puasa Wanita Hamil dan Menyusui

Fatwa Syekh Athiyyah Shaqar


Pertanyaan: 


Kami membaca di beberapa buku bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan wajib membayar Fidyah, tidak wajib meng-qadha’ puasa. Apakah benar demikian? 


Jawaban: 


Allah Swt berfirman:
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”.
(Qs. Al-Baqarah [2]: 183)
Ada dua pendapat ulama tentang tafsir ayat ini; pendapat pertama mengatakan bahwa pada awalnya puasa itu adalah ibadah pilihan, siapa yang mampu untuk melaksanakan puasa maka dapat melaksanakan puasa atau tidak berpuasa, bagi yang tidak berpuasa maka sebagai gantinya membayar fidyah memberi makan orang miskin. Dengan pilihan ini, berpuasa lebih utama. Kemudian hukum ini di-nasakh, diwajibkan berpuasa bagi yang mampu, tidak boleh meninggalkan puasa dan memberikan makanan kepada orang miskin, 
berdasarkan firman Allah Swt: 
“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”
(Qs. Al-Baqarah [2]: 185).
Yang me-nasakh  hukum diatas adalah ayat ini, demikian diriwayatkan para ulama kecuali Imam Ahmad. Dari Salamah bin al-Akwa‟,  ia berkata, “Ketika ayat  ini (al-Baqarah: 183) turun, sebelumnya orang yang tidak mau berpuasa boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah, sampai ayat setelahnya turun dan menghapus hukumnya”.  

Satu pendapat mengatakan bahwa puasa itu diwajibkan bagi orang-orang yang mampu saja. Dibolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit, musafir dan orang yang berat melakukannya. Mereka menafsirkan makna  al-Ithaqah  dengan berat melaksanakan puasa, yaitu orang-orang yang telah lanjut usia. Bagi orang yang sakit dan musafir diwajibkan qadha’. Sedangkan bagi orang yang lanjut usia diwajibkan membayar  fidyah  saja, tanpa perlu melaksanakan puasa  qadha’, karena semakin tua maka semakin berat mereka melaksanakannya, demikian juga orang yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak akan mampu melaksanakan puasa  qadha’, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar  fidyah. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari „Atha‟, ia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat:
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”.
(Qs. Al-Baqarah [2]: 183)
 Ia berkata, “Ayat ini tidak di-nasakh. Akan tetapi ayat ini bagi orang yang lanjut usia yang tidak mampu melaksanakan puasa, maka mereka memberi makan satu orang miskin untuk satu hari tidak berpuasa”.  

Sebagian ulama moderen seperti Syekh Muhammad Abduh meng-qiyas-kan para pekerja berat yang kehidupan mereka bergantung pada pekerjaan yang sangat berat seperti mengeluarkan batubara dari tempat tambangnya, mereka di-qiyas-kan kepada orang tua renta yang lemah dan orang yang menderita penyakit terus menerus. Demikian juga dengan para pelaku tindak kriminal yang diwajibkan melaksanakan pekerjaan berat secara terus menerus, andai mereka mampu melaksanakan puasa, maka mereka tidak wajib berpuasa dan tidak wajib membayar  fidyah, meskipun mereka memiliki harta untuk membayar fidyah

Sedangkan wanita hamil dan ibu menyusui, jika mereka tidak berpuasa karena mengkhawatirkan diri mereka, atau karena anak mereka, maka menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah saja, tidak wajib melaksanakan puasa  qadha’, mereka disamakan dengan orang yang telah lanjut usia. Abu Daud dan „Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang ayat: 
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)”.
  (Qs. Al-Baqarah [2]: 183). 
Ibnu Abbas berkata,
“Ini keringanan bagi orang yang telah lanjut usia baik laki-laki maupun perempuan yang tidak mampu berpuasa, mereka boleh tidak berpuasa dan wajib memberi  fidyah memberi makan satu orang miskin untuk satu hari. Wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan anaknya, maka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar  fidyah”.
 Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan tambahan di akhir riwayat: Ibnu Abbas berkata kepada seorang ibu hamil,
“Engkau seperti orang yang tidak mampu berpuasa, maka engkau wajib membayar  fidyah, tidak wajib  qadha’  bagiku"
Sanadnya dinyatakan shahih oleh ad-Daraquthni. Imam Malik dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Nafi‟
bahwa Ibnu Umar ditanya tentang wanita hamil jika mengkhawatirkan anaknya, ia menjawab,
 “Ia boleh tidak berpuasa dan wajib membayar  fidyah  satu orang miskin untuk satu hari, membayar satu Mudd gandum”. 
Dalam hadits disebutkan:
“Sesungguhnya Allah Swt tidak mewajibkan puasa bagi musafir dan menggugurkan setengah kewajiban shalat (shalat Qashar). Allah Swt menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui”. Diriwayatkan  oleh  lima  imam,  Imam Ahmad dan para pengarang kitab as-Sunan. 
Berdasarkan dalil diatas maka wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan dirinya atau anaknya, maka boleh tidak berpuasa. Apakah wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah? 

Menurut Ibnu Hazm: tidak wajib qadha’ dan fidyah. 
Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Umar: wajib membayar fidyah saja tanpa kewajiban qadha’.
Menurut Mazhab Hanafi: wajib  qadha’  saja tanpa kewajiban fidyah.
Menurut Mazhab Syafi‟i dan Hanbali: wajib  qadha’ dan  fidyah, jika yang dikhawatirkan anaknya saja. Jika yang dikhawatirkan adalah dirinya saja, atau yang dikhawatirkan itu diri dan anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib melaksanakan qadha’ saja, tanpa wajib membayar  fidyah.
(Nail al-Authar, juz. 4, hal. 243 – 245). 

Dalam Fiqh empat mazhab dinyatakan: 


Menurut Mazhab Maliki: 

wanita hamil dan ibu menyusui, jika melaksanakan puasa dikhawatirkan akan sakit atau bertambah 
sakit, apakah yang dikhawatirkan itu dirinya, atau anaknya, atau dirinya saja, atau anaknya saja. Mereka boleh berbuka dan wajib melaksanakan qadha’, tidak wajib membayar  fidyah bagi wanita 
hamil, berbeda dengan ibu menyusui, ia wajib membayar  fidyah. Jika puasa tersebut dikhawatirkan menyebabkan kematian atau mudharat yang sangat parah bagi dirinya atau anaknya, maka wanita hamil dan ibu menyusui wajib tidak berpuasa. 

Menurut  Mazhab Hanafi: 

jika wanita hamil dan ibu menyusui mengkhawatirkan mudharat, maka boleh berbuka, apakah kekhawatiran tersebut terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja. Wajib melaksanakan qadha’ ketika mampu, 
tanpa wajib membayar fidyah


Menurut Mazhab Hanbali: 

wanita hamil dan ibu menyusui boleh berbuka, jika mengkhawatirkan mudharat terhadap diri dan 
anak, atau diri saja. Dalam kondisi seperti ini mereka wajib melaksanakan  qadha’  tanpa membayar  fidyah. Jika yang dikhawatirkan itu anaknya saja, maka wajib melaksanakan puasa qadha’ dan membayar fidyah. 

Menurut Mazhab Syafi’i: 

wanita hamil dan ibu menyusui, jika mengkhawatirkan mudharat, apakah kekhawatiran tersebut 
terhadap diri dan anak, atau diri saja, atau anak saja, mereka wajib berbuka dan  mereka wajib melaksanakan  qadha’  pada tiga kondisi diatas. Jika yang dikhawatirkan anaknya saja, maka wajib 
melaksanakan qadha’ dan membayar fidyah. 

Pendapat Mazhab Syafi‟i sama seperti Mazhab Hanbali dalam hal  qadha’  dan  fidyah, hanya saja Mazhab Hanbali membolehkan berbuka jika mengkhawatirkan mudharat, sedangkan Mazhab Syafi‟i mewajibkan berbuka. Dalam salah satu pendapatnya Imam Syafi‟i mewajibkan  fidyah  bagi wanita menyusui, tidak wajib bagi ibu hamil, seperti pendapat Mazhab 
Maliki. 

Penutup: 

hadits yang diriwayatkan lima imam dari Anas bin Malik al-Ka‟bi. Al-Mundziri berkata, “Ada lima perawi hadits yang bernama Anas bin Malik: dua orang shahabat ini, Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari pembantu Rasulullah Saw, Anas bin Malik ayah Imam Malik bin Anas, ia meriwayatkan satu hadits, dalam sanadnya perlu diteliti. Keempat, seorang Syekh dari Himsh. Kelima, seorang dari Kufah, meriwayatkan hadits dari Hamad bin Abu Sulaiman, al-A‟masy dan lainnya. Imam asy-Syaukani berkata, “Selayaknya Anas bin Malik al-Qusyairi yang disebutkan Ibnu Abi Hatim adalah Anas bin Malik yang keenam, jika ia bukan al-Ka‟bi”. 


Sumber : Ebook Fatwa Ramadhan yang disusun oleh H. Abdul Somad, Lc. MA.

Redaksi Tafaqquh

Foto : suaramerdeka.com
Baca »

Melaksanakan Shalat Tarawih Terlalu Cepat

Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi.
 

Pertanyaan: 


Apa hukum melaksanakan shalat Tarawih terlalu cepat? 


Jawaban: 


Dalam  Shahih  al-Bukhari dan Muslim dinyatakan dari Rasulullah Saw bahwa beliau bersabda: 
“Siapa yang melaksanakan Qiyamullail di bulan Ramadhan karena keimanan dan hanya mengharapkan balasan dari Allah Swt, maka diampuni dosanya yang telah lalu”
Allah Swt mensyariatkan puasa di siang hari bulan Ramadhan dan lewat lidah nabi-Nya Ia syariatkan Qiyamullail  di malam bulan Ramadhan. Qiyamullail  ini dijadikan sebagai penyebab kesucian dari dosa dan kesalahan. Akan tetapi  Qiyamullail  yang dapat mengampuni dosa dan membersihkan dari noda adalah yang dilaksanakan seorang muslim dengan sempurna syarat-syarat, rukun-rukum, adab dan batasannya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa  thuma’ninah adalah salah satu rukum dari rukun shalat, sama seperti membaca al-Fatihah, ruku‟ dan sujud. Ketika seseorang melaksanakan shalat dengan cara yang tidak baik di hadapan Rasulullah Saw, tidak melakukan  thuma’ninah, 
Rasulullah Saw berkata kepadanya,
“Kembalilah, shalatlah kembali, karena sesungguhnya engkau belum shalat”
Kemudian Rasulullah Saw mengajarkan bagaimana shalat yang diterima Allah Swt seraya berkata:  

“Ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam ruku’,kemudian bangkitlah hingga engkau i’tidal berdiri. Kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah hingga thuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian lakukanlah itu dalam semua shalatmu”. 
(HR. Al-Bukhari, Muslimdan para penyusun kitab as-Sunan, dari hadits Abu Hurairah ra).  
Thuma’ninah  dalam semua rukun adalah syarat yang mesti ada. Batasan  thuma’ninah yang disyaratkan, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama menetapkan kadar thuma’ninah  minimal satu kali Tasbih, misalnya seperti mengucapkan kalimat:  

Subhana Rabbi Al-A'La Wabihamdihi
“Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi”. 
Sebagian ulama seperti Imam Ibnu Taimiah mensyaratkan kadar  Thuma’ninah  dalam ruku‟ dan sujud kira-kira tiga kali Tasbih. Dalam hadits disebutkan bahwa membaca Tasbih tiga kali dan itu adalah batas minimal, oleh sebab itu mesti ada thuma‟ninah kira-kira tiga kali Tasbih. Allah Swt berfirman:  

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya”
(Qs. Al-Mu‟minun [23]: 1 – 2)
Khusyu‟ ada dua jenis: 

Khusyu‟ tubuh dan khusyu‟ hati. 


Khusyu‟ tubuh adalah tenangnya tubuh dan tidak melakukan perbuatan sia-sia, tidak menoleh seperti menolehnya srigala. Tidak ruku‟ dan sujud seperti patokan ayam. Akan tetapi melaksanakan shalat dengan rukun-rukun dan batasan-batasan sebagaimana yang disyariatkan Allah Swt. Oleh sebab itu mesti ada khusyu‟ tubuh dan khusyu‟ hati.  

Makna khusyu‟ hati adalah menghadirkan keagungan Allah Swt, yaitu dengan merenungkan makna ayat-ayat yang dibaca, mengingat akhirat, mengingat sedang berada di hadapan Allah Swt.
 Allah Swt berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, 
“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Ketika seorang hamba mengucapkan: 

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.  
(Qs.  Al-Fatihah [1]: 2). 
Allah Swt menjawab: 
“Hamba-Ku memuji-Ku”. 
Ketika hamba itu mengucapkan: 
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.  (Qs.  Al-Fatihah [2]: 3). 
Allah Swt menjawab: 
“Hamba-Ku memuji-Ku”. 
Ketika hamba itu mengucapkan: 
“Yang menguasai di hari Pembalasan”. (Qs. Al-Fatihah [1]: 4). 
Allah Swt menjawab: 
“Hamba-Ku memuliakan-Ku”. 
Ketika hamba itu mengucapkan: 
“Hanya Engkaulah yang  kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah  kami meminta pertolongan”. 
 (Qs. Al-Fatihah [1]: 5). 
Allah Swt menjawab: 
“Ini antara Aku dan hamba-Ku. Hamba-Ku mendapatkan apa yang ia mohonkan”. 
Ketika hamba itu mengucapkan: 
“Hanya Engkaulah yang  kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah  kami meminta pertolongan. Tunjukilah  kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.  
(Qs. Al-Fatihah [1]: 6 – 7). 
Allah Swt menjawab: 
“Ini untuk hamba-Ku dan hamba-Ku mendapatkan apa yang ia mohonkan”. (HR. Muslim). 
Allah Swt tidak terasing dari orang yang sedang melaksanakan shalat, Allah Swt memperkenankan 
permohonannya, oleh sebab itu mesti ada  interaksi antara orang yang shalat dengan Allah Swt, menghadirkan hati dalam setiap gerakan shalat, dalam setiap waktu shalat dan dalam setiap rukun shalat. Orang-orang yang shalat dan hanya memikirkan ingin segera selesai melaksanakan shalat dan melemparkan shalat seakan-akan shalat itu beban berat di pundak mereka, bukanlah itu shalat yang diharapkan. Banyak orang yang melaksanakan shalat pada bulan Ramadhan sebanyak dua puluh rakaat dan dua puluh tiga rakaat dalam hitungan beberapa menit saja. Yang mereka inginkan hanyalah cepat menyelesaikan shalat dalam waktu sesingkat mungkin. Tidak sempurna ruku‟, sujud dan khusyu‟nya. Ini sama seperti yang disebutkan dalam hadits: 
“Shalat itu naik ke langit dalam keadaan hitam pekat. Ia berkata kepada pemiliknya, “Engkau disia-siakan Allah Swt sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku”.  Shalat yang khusyu‟ dan tenang akan naik ke langit dalam keadaan putih bercahaya, ia akan berkata kepada pemiliknya, “Semoga Allah Swt menjagamu sebagaimana engkau telah menjagaku”. 
Nasihat saya kepada para imam dan mereka yang melaksanakan shalat dengan jumlah rakaat yang banyak akan tetapi tidak dengan cara yang benar,  tidak khusyu‟, tidak menghadirkan hati dan tidak dengan ketenangan tubuh, sebaiknya mereka melaksanakan delapan rakaat dengan tenang dan khusyu‟, itu lebih baik daripada dua puluh rakaat. Yang dilihat bukanlah kuantitas dan banyaknya. Akan tetapi yang dilihat adalah cara dan sifatnya. Yang dinilai adalah shalat itu sendiri, apakah shalat yang dilaksanakan oleh orang-orang yang khusyu‟ atau shalat orang  yang tergesa-gesa. 
Kita memohon kepada Allah Swt semoga menjadikan kita tergolong orang-orang beriman yang khusyu‟. 

Baca »

Televisi dan Puasa

Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi. 


Pertanyaan: 


Apa pendapat agama Islam tentang menonton TV bagi orang yang sedang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan?

Jawaban: 


Televisi adalah salah satu sarana, di dalamnya ada kebaikan dan hal yang tidak baik. Semua sarana mengandung hukum tujuan. Televisi sama seperti radio dan sarana informasi lainnya, di dalamnya ada yang baik dan ada yang tidak baik. Seorang muslim mesti mengambil manfaat dari yang baik dan menjauhkan 
diri dari yang tidak baik, apakah ia dalam keadaan berpuasa atau pun tidak sedang berpuasa. Akan tetapi dalam keadaan berpuasa ia mesti lebih hati-hati, agar puasanya tidak rusak, agar pahalanya tidak hilang sia-sia dan tidak mendapatkan balasan dari Allah Swt.

Menonton TV, saya tidak katakan halal secara mutlak dan tidak pula haram secara mutlak. Akan tetapi mengikut apa yang ditonton, jika baik, maka boleh dilihat dan didengar, seperti acara-acara agama Islam, berita, acara-acara yang membawa kepada kebaikan. Jika tidak baik, seperti acara tarian yang tidak menutup aurat dan hal-hal seperti itu, maka haram untuk dilihat di setiap waktu, terlebih lagi di bulan Ramadhan. 

Sebagian acara makruh ditonton, meskipun tidak sampai ke tingkat haram. Semua sarana yang menghalangi diri dari mengingat Allah Swt, maka haram hukumnya. Jika menonton TV, atau mendengar radio dan lain sebagainya dapat melalaikan dari suatu kewajiban yang diwajibkan Allah Swt, seperti shalat, maka 
dalam kondisi seperti ini hukumnya haram. Semua perbuatan yang melalaikan shalat maka hukumnya haram. Ketika Allah Swt menyebutkan sebab diharamkannya khamar dan judi, 

Allah Swt sebutkan sebabnya: 

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. 
(Qs. Al-Ma‟idah [5]: 91). 
Maka bagi semua pihak yang bertanggung jawab terhadap acara televisi agar bertakwa kepada Allah Swt tentang apa yang 
layak untuk dipersembahkan kepada khalayak ramai, khususnya i bulan Ramadhan, untuk menjaga kemuliaan bulan yang penuh berkah, menolong kaum muslimin untuk taat kepada Allah Swt dan menambah amal kebaikan, agar tidak memikul dosa mereka dan dosa para penonton, seperti yang difirmankan Allah Swt: 
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan).  Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”.  
(Qs. An-Nahl [16]: 25).  
Sumber : Ebook Fatwa Ramadhan yang disusun oleh H. Abdul Somad, Lc. MA.

Redaksi Tafaqquh

Foto : Indonesia Raya News

Baca »

Menggunakan Siwak dan Pasta Gigi

Fatwa Syekh DR. Yusuf al-Qaradhawi. 

Pertanyaan: 


Apa hukum menggunakan siwak bagi orang yang berpuasa? Dan penggunaan pasta gigi?


Jawaban: 


Dianjurkan menggunakan Siwak sebelum Zawal (tergelincir matahari). Adapun setelah tergelincir matahari, para ahli Fiqh berbeda pendapat. Sebagian mereka  menyatakan makruh hukumnya menggosok gigi setelah tergelincir matahari bagi orang yang berpuasa. Dalilnya adalah hadits Rasulullah Saw:

“Demi jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah Swt daripada semerbak kasturi”.
(HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Menurut pendapat ini, harum semerbak kasturi tidak baik jika dihilangkan, atau makruh dihilangkan, selama bau tersebut diterima dan dicintai Allah Swt, maka orang yang berpuasa membiarkannya. Ini sama seperti darah dari luka orang yang mati syahid. Rasulullah Saw berkata tentang para syuhada‟:

“Selimutilah mereka dengan darah dan pakaian mereka, karena sesungguhnya mereka akan dibangkitkan dengannya di sisi Allah Swt pada hari kiamat, warnanya warna darah dan harumnya harum semerbak kasturi” 
Oleh  sebab  itu  orang  yang mati syahid tetap dengan darah dan pakaiannya, tidak dimandikan
dan bekas darah tidak dibuang. Mereka meng-qiyaskan dengan ini. Sebenarnya ini tidak dapat diqiyaskan dengan bau mulut orang yang berpuasa, karena ada kedudukan tersendiri. Sebagian shahabat meriwayatkan, “Saya seringkali melihat Rasulullah Saw bersiwak ketika beliau sedang berpuasa”. Bersiwak ketika berpuasa dianjurkan dalam setiap waktu, pada pagi maupun petang hari. Juga dianjurkan sebelum atau pun setelah berpuasa. Bersiwak adalah sunnah yang dipesankan Rasulullah Saw:

“Siwak itu kesucian bagi mulut dan keridhaan Allah Swt”.
(HR. an-Nasa‟I, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih mereka. Diriwayatkan al-Bukhari secara mu’allaq dengan shighat Jazm). 
 Rasulullah Saw tidak membedakan antara puasa atau tidak berpuasa.

Adapun pasta gigi, mesti berhati-hati dalam menggunakannya agar tidak masuk ke dalam sehingga
membatalkan puasa menurut mayoritas ulama. Oleh sebab itu lebih untuk dihindari dan ditunda pemakaiannya setelah berbuka puasa. Akan tetapi jika dipakai dan bersikap hati-hati, namun
tetap masuk sedikit ke dalam, maka itu dimaafkan. Allah Swt berfirman:

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu”.
 (Qs. Al-Ahzab [33]: 5).
Rasulullah Saw bersabda:

“Diangkat dari umatku; tersalah, lupa dan sesuatu yang dipaksa untuk melakukannya”. 

Wallahu a’lam. 
Baca »

Niat Puasa

Fatwa Syekh Athiyyah Shaqar

Pertanyaan: 


Saya lupa berniat puasa pada waktu malam. Kemudian saya teringat setelah fajar bahwa saya belum berniat. Apakah puasa saya sah?

Jawaban: 


Niat merupakan sesuatu yang mesti ada dalam puasa, puasa tidak sah tanpa adanya niat. Mayoritas ulama mensyaratkan agar setiap hari mesti berniat puasa, sebagian ulama mencukupkan satu niat saja pada awal malam bulan Ramadhan untuk niat satu bulan secara keseluruhan. Waktu berniat adalah sejak tenggelam matahari hingga terbit fajar.

Jika seseorang berniat melaksanakan puasa di malam hari, maka niat itu sudah cukup, ia boleh makan atau minum setelah berniat, selama sebelum fajar.

Imam Ahmad, Abu Daud, an-Nasa‟i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Siapa yang tidak menggabungkan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”

Tidak disyaratkan melafalkan niat, karena tempat niat itu di hati. Jika seseorang sudah bertekad di dalam hatinya untuk  melaksanakan puasa, maka itu sudah cukup. Meskipun hanya sekedar bangun pada waktu sahur dan berniat akan melaksanakan puasa, itu sudah cukup, atau minum agar tidak merasakan haus pada siang hari, maka niat itu sudah cukup. Siapa yang tidak melakukan itu pada waktu malam, maka puasanya tidak sah, ia mesti meng-qadha’ puasanya. Ini berlaku pada puasa Ramadhan.
Sedangkan puasa sunnat, niatnya sah dilakukan pada waktu siang hari sebelum zawal (matahari tergelincir).

Sumber : Ebook Fatwa Ramadhan yang disusun oleh H. Abdul Somad, Lc. MA.

Redaksi Tafaqquh

Foto : carapedia.com


Baca »

Menulis Artikel Jurnal



Oleh : Ghazali Yusri Ar

Setelah memperihalkan aspek-aspek teknikal berkaitan dengan penerbitan artikel jurnal, saya suka pula membincangkan beberapa tips dalam penulisan artikel jurnal. Namun, kepelbagaian bentuk kajian dan bidang menjadikan penulisan artikel itu berbentuk rencam dan pelbagai. Oleh itu, saya akan berkongsikan tips-tips umum sahaja yang boleh digunakan sebagai panduan oleh kepelbagaian bidang tadi, insyaAllah.

Tips umum


Pertama sekali, anda sebagai penulis perlu mempunyai modal jika anda mahu berniaga. Penulisan artikel adalah buah daripada hasil kajian yang anda lakukan. Oleh itu, anda perlu mewujudkan modal itu dahulu sama ada melalui kajian sendiri, kajian kerjasama dengan organisasi ataupun kumpulan.

Anda juga perlu mengenali bidang kepakaran yang menjadi kekuatan anda seperti sosio linguistik, psikolinguistik, psikologi pendidikan, kurikulum, korpus, kontrastif dan sebagainya. Anda juga mungkin sahaja pakar dalam bidang ekonomi dan juga sains. Namun, bidang-bidang ini juga mempunyai sub-sub kepakaran masing-masing. Anda tidak boleh terlalu tamak kerana anda tidak akan mampu untuk menjadi pakar dalam semua bidang. Penulisan artikel yang berkualiti memerlukan fokus dan penelitian dalam literatur yang melibatkan aspek teori serta aplikasi. Bagi membina penguasaan literatur, ia memerlukan masa dan melibatkan pembacaan serta penelitian yang teliti. Anda mungkin boleh menjimatkan masa dalam perkara ini dengan membuat perkongsian pintar dengan pakar. Mungkin para profesor ataupun pelajar Ph.D dan sarjana boleh memandu anda dalam pembacaan literatur. Anda boleh sahaja memohon bantuan mereka dari segi teori dan literatur, namun anda pula mengepalai kajian aplikasinya.

Perkara ini juga biasa berlaku apabila melibatkan projek kajian yang besar. Seorang pakar dari Amerika Syarikat mungkin akan meminta bantuan kepakaran di Malaysia bagi mengepalai pengumpulan maklumat di bahagian Asia Tenggara yang boleh menyempurnakan satu kajian yang berskala besar. Inilah yang dinamakan sebagai kajian kolaborasi dan suasana menang-menang pun dapat diwujudkan antara para pengkaji. Seorang profesor dalam bidang kejuruteraan mungkin sahaja memerlukan bantuan literatur daripada seorang sarjana dalam bidang perubatan ababila kajiannya melibatkan rentas disiplin ilmu. Dengan cara ini, perkongsian kepakaran akan berlaku dan ilmu juga akan berkembang merentasi bidang.

Anda perlu mengenali tokoh dalam bidang penulisan anda. Perkara ini akan membolehkan anda melihat trend perbincangan dan perbahasan semasa dalam bidang tersebut, mengkaji corak perbahasan yang diterima oleh pihak jurnal serta boleh menjejaki nama jurnal yang menerbitkan artikel tersebut. Anda juga boleh merujuk kepada penulisan tokoh tersebut seterusnya dapat meningkatkan lagi mutu akademik penulisan anda.

Anda juga perlu mengkaji corak penulisan dan trend semasa kajian berkaitan dengan bidang anda. Kajian yang baik belum tentu akan diterbitkan oleh jurnal berimpak tinggi sekiranya perbahasan itu sudah lapuk dan sudah tepu. Ini kerana impak yang mampu dihasilkan adalah kurang kerana pengkaji sudah tidak membincangkan perkara itu lagi.

Anda juga perlu mengenali jurnal yang berpotensi menerbitkan hasil penulisan anda. Jurnal-jurnal berimpak tinggi khususnya yang terindeks dalam ISI Tomson dan SCOPUS sangat menitikberatkan skop penulisan. Sekiranya skop penulisan artikel itu terkeluar daripada skop jurnal, maka ia akan ditolak tanpa diwasitkan.

Binaan sebuah artikel


Sesebuah artikel akademik biasanya terdiri daripada tajuk, abstrak, pendahuluan, metodologi, dapatan kajian, perbincangan, rumusan dan cadangan, penutup dan senarai rujukan. Saya akan membincangkan perkara ini secara umum supaya ia dapat dimanafaatkan oleh semua.

Tajuk


Tajuk artikel haruslah ringkas, jelas dan melambangkan perbahasan utama artikel. Tajuk yang baik seeloknya menarik perhatian ramai untuk membacanya.


Abstrak


Abstrak artikel perlu mengandungi pendahuluan ringkas tentang kajian. Selepas itu, penulis perlu menerangkan objektif utama dan objektif terperinci kajian. Sekiranya objektif itu melebihi dua perkara, penulis boleh mempertimbangkan penggunaan nombor bagi menjelaskan perkara ini. Selepas itu, metodologi kajian perlu dijelaskan dengan terperinci. Ia melibatkan reka bentuk kajian, populasi serta kaedah persampelan. Penulis juga perlu menyenaraikan dapatan kajian secara ringkas mengikut turutan objektif kajian tadi. Penggunaan nombor juga mungkin boleh dipertimbangkan sekiranya objektif itu melebihi dua perkara. Abstrak kajian juga perlu disertakan secara ringkas implikasi kajian terhadap amalan semasa ataupun sumbangan kajian terhadap badan ilmu. Jumlah bilangan perkataan dalam abstrak adalah bergantung kepada jurnal. Ada yang menetapkan tidak melebihi 100 patah perkataan, namun kebiasaannya adalah antara 100 sehingga 300 patah perkataan. Sekiranya bilangan abstrak melebihi atau berkurangan daripada jumlah yang ditetapkan, maka kebiasaannya pihak jurnal akan memulangkan artikel itu kembali kepada penulis untuk diperbaiki. Malah ada jurnal yang menetapkan format tertentu dalam penulisan abstrak. Perkara ini bergantung kepada pihak jurnal.


Pendahuluan


Pendahuluan artikel perlu mempunyai latar belakang kajian serta teori yang mendasari kajian tersebut. Penulis juga perlu menjelaskan kajian-kajian terdahulu yang pernah membincangkan persoalan yang serupa. Ini bagi membolehkan pembaca melihat kedudukan kajian terbaru ini dalam badan ilmu. Seterusnya, penulis perlu membentangkan pernyataan masalah kajian yang mendorong kajian itu dilakukan. Begitu juga, apakah bentuk sumbangan kajian baru ini terhadap badan ilmu secara keseluruhannya. Kemudian, penulis perlu menyatakan persoalan kajian ataupun hipotesis kajian. Nombor mungkin boleh diperimbangkan sekiranya persoalan kajian itu melebihi satu. Kesemua elemen ini harulah diletakkan di bawah pendahuluan dan dibezakan oleh perenggan yang berbeza. Bahagian ini perlu diringkaskan dan biasanya tidak melebihi 3 halaman. Citaton yang cukup perlu dilakukan penulis bagi menunjukkan bahawa penulis telah menguasai literatur secukupnya. Sebaiknya juga segala perbahasan perlulah dirujuk kepada sumber rujukan utama dan bukannya diambil dari sumber yang kedua seperti penulisan tesis dan sebaginya. Sebagai contohnya, jika penulis bercakap mengenai Teori Piaget, maka rujukan sepatutnya menggunakan buku Piaget itu sendiri dan bukannya tesis atau buku orang lain yang datang selepas itu.


Metodologi


Pada bahagian ini, penulis perlu menjelaskan reka bentuk kajian yang digunakan sepeti kajian eksperimen, tinjauan, kajian kes, action research, kajian etnografi, kajian campuran metode (mixed method), analisis dokumen ataupun kajian kepustakaan. Penulis juga harus menerangkan latar belakang populasi, teknik persampelan, jumlah bilangan sampel kajian serta rasional bilangan tersebut, pemilihan responden dan juga lokasi kajian yang terlibat. Selain itu, penulis juga harus menerangkan bentuk-bentuk instrumen yang digunakan, serta teknik kesahan dan kebolehpercayaan instrumen yang penulis gunakan. Bagi kajian kualitatif pula sebagi contohnya, penulis harus menerangkan apakah teknik kesahan yang digunakan seperti teknik kesahan Cohen Kappa dan sebagainya. Sekiranya penulis menggunakan akronim, maksud akronim tersebut perlu dijelaskan. Penulis juga perlu menerangkan bentuk teknik analisis yang digunakan seperti penggunaan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS), Rasch Model, Structural Equation Modelling (SEM) dan sebagainya.

Dapatan kajian


Seeloknya, dapatan kajian perlu disusun mengikut susunan persoalan kajian supaya para pembaca dan penilai dapat mengaitkannya dengan persoalan kajian yang disebut terlebih dahulu. Persembahan data juga perlu mengikut standard jurnal. Kebanyakan jurnal menggunakan standard The American Psychological Association (APA), namun terdapat juga jurnal yang menggunakan format yang lain. Oleh itu, penelitian kepada format penulisan yang digariskan oleh setiap jurnal akan sedikit sebanyak membantu para penulis. Begitu juga, penulis boleh juga melihat contoh artikel yang telah diterbitkan oleh jurnal tersebut bagi mendapatkan gambaran kasar tentang jangkaan pihak jurnal. Bagi data kualitatif pula, terdapat jurnal yang lebih menggemari teknik naratif berbanding teknik persembahan data sebenar. Oleh itu, perkara ini adalah subjektif dan bergantung kepada setiap jurnal. Walaupun begitu, corak persembahan data ini haruslah teliti, jelas dan tersusun.


Perbincangan


Bahagian ini menunjukkan penguasaan penulis dalam membincangkan isu utama penulisan. Seeloknya perbincangan ini disusun mengikut susunan persoalan kajian supaya pembaca dapat fokus dan mengaitkannya dengan dapatan. Penulis perlu membincangkan persoalan kajian secara kritis satu persatu berpandukan dapatan kajian dan ulasan literatur yang mantap. Ia juga perlu disokong oleh teori dan kajian-kajian yang lepas. Seterusnya, penulis harus merumuskan apakah bentuk penemuan baru atau penemuan yang menyokong dapatan terdahulu yang menyumbang kepada badan ilmu dan amalan semasa. Perbincangan perlu ditulis secara sistematik, akademik dan tidak meleret-leret. Setiap pernyataan harus diperkuatkan dengan bukti yang boleh diambil daripada kajian-kajian yang lepas. Elakkan membuat pernyataan secara ‘syok sendiri’ tanpa disertakan buktinya. Apa yang penting, perbincangan seharusnya dalam bentuk yang akademik.


Kesimpulan dan cadangan


Dalam bahagian ini, penulis harus membuat rumusan secara ringkas tentang kajian yang dilakukan dan apakah bentuk sumbangan kajian tersebut kepada badan ilmu. Penulis juga harus mengemukakan cadangan-cadangan baru yang terhasil daripada penemuan kajian yang dilakukan. terhadap keadaan semasa.

Penutup


Dalam bahagian ini, penulis harus mengemukakan secara ringkas tentang kajian yang dibuat, penemuan-penemuan yang penting dan implikasi kajian. Penulis harus mengelakkan diri  daripada membuat citation baru.

Rujukan


Penulis harus memastikan bahawa setiap citation yang dibuat dalam teks harus disebut dalam bahagian rujukan. Penggunaan perisian-perisian tertentu seperti EndNote boleh membantu penulis dalam perkara ini. Senarai rujukan juga perlu ditulis berdasarkan format yang telah ditetapkan. Seeloknya, penulis perlu meluangkan masa untuk membaca Guide for authors yang disediakan oleh pihak jurnal terlebih dahulu. Ini kerana jurnal berlainan menggunakan format yang berlainan pula. Dalam penulisan artikel, penulis perlu memperbanyakkan penggunaan rujukan yang terkini, seboleh-bolehnya 60 peratus terdiri daripada bahan yang berumur kurang daripada 5 tahun daripada tahun artikel itu ditulis. Terdapat juga jurnal yang menghadkan bilangan rujukan bagi setiap artikel. Sebagai contohnya, Gema Online Journal hanya membenarkan penggunaan 30 rujukan bagi setiap artikel yang dihantar.

Disadur Dari  : ghazaliyusri.wordpress.com
Sumber Foto : yellowbrickroad.com
Baca »

Menulis Berita Bagi Reporter Pemula





Oleh : Jarar Siahaan

Tips jurnalistik dasar bagi wartawan pemula: bagaimana menulis berita yang baik untuk koran


Tips cara menulis berita #1: Menulis dengan jujur. Fakta tidak boleh dipelintir. Opini dan penafsiran harus ditulis dalam alinea yang berbeda. Boleh tidak netral, tapi harus independen.


Berbohong dalam berita adalah dosa terberat wartawan. Jika jumlah aktivis LSM yang mendemo bupati hanya puluhan orang, jangan tulis ratusan atau ribuan orang. Berita bohong seperti ini sangat sering muncul di koran-koran daerah, terutama menyangkut liputan pilkada.

Jika harus menulis interpretasi atas sebuah fakta, tuliskanlah di paragraf terpisah, dan tunjukkan secara jelas kepada pembaca supaya mereka tahu mana yang fakta dan mana opini atau penafsiran si wartawan.

Reporter yang meliput berita di lapangan harus bersikap independen terhadap semua pihak yang terkait dengan topik tulisannya. Berikan kesempatan yang sama bagi semua narasumber untuk menjelaskan versi mereka, jangan memvonis kebenaran. Wartawan boleh tidak netral, misalnya kalau harus memihak pada rakyat yang jadi korban penindasan penguasa, namun harus selalu independen dengan memberikan kesempatan pada penguasa untuk berbicara.

Tips cara menulis berita #2: Tanda Baca koma dan pola piramida terbalik.


Berhati-hatilah menggunakan tanda baca koma. Bila salah penempatan, maka redaktur di kantor redaksi bisa salah memahami laporan anda. “Amir memukul, Budi ditangkap polisi” (yang memukul ialah si Amir, kok malah Budi yang ditangkap) adalah berbeda maknanya dengan “Amir memukul Budi, ditangkap polisi” (ini benar, yang ditangkap adalah Amir).

Menulis berita biasa haruslah dalam format piramida terbalik. Yang paling penting di bagian paling atas; alinea-alinea di bawahnya semakin kurang penting. Saya sering membaca berita koran daerah yang memuat nama-nama pejabat yang menghadiri sebuah acara seremonial pada alinea kedua atau ketiga, padahal inti beritanya justru di alinea kelima atau bahkan menjelang akhir.

Tips cara menulis berita #3: Catat dengan detail. Dengarkan dengan cermat. Rekam, jangan andalkan ingatan.


Saya sering melihat reporter koran yang baru beberapa tahun bekerja melakukan wawancara atau liputan berita di lapangan dengan tidak mencatat sama sekali! Manusia dengan otak super! Bahkan hanya duduk di warung kopi dengan jarak seratusan meter dari lokasi demo atau acara seremonial yang akan jadi topik beritanya. Tapi sepulang meliput, dia bisa dengan santai menulis berita di komputer warnet, tanpa takut sedikit pun bahwa kemungkinan ada data dan fakta yang salah-tulis.

Wartawan pemula sering malu untuk bertanya, “Pak Kadis, ejaan nama Bapak yang benar Jhonny atau Joni atau bagaimana?”

Kalau narasumber mengucapkan kalimat dengan makna ganda atau kurang jelas, tanyakan kembali dan tegaskan. Jangan sampai yang dia maksud adalah “Polisi belum akan memeriksa dia” tapi anda tulis dalam berita sebagai “Polisi tidak akan memeriksa dia”.

 

Tips cara menulis berita #4: Tulis dalam kalimat yang jelas, lengkap, dan jernih.


Redaktur koran harian akan membiarkan naskah berita reporter yang ditulis dengan kalimat yang membingungkan, karena dia dikejar tenggat menyelesaikan halamannya. Kalau anda menulis berita kriminal tentang mencuri, maka sebutkan sejelas-jelasnya SIAPA yang mencuri, SIAPA yang menjadi korban, dan APA yang dicuri. Jangan anda malah asyik menulis BAGAIMANA pencurian itu terjadi, atau ajakan kapolsek agar warga melakukan ronda malam.

Yang paling mendasar dalam sebuah berita biasa ialah APA dan SIAPA, baru kemudian DI MANA, KAPAN dan yang lainnya. Jangan tulis “Menurut Amir, bla-bla-bla…” tanpa anda jelaskan siapa itu si Amir; apakah dia demonstran, penonton aksi demo, atau pendukung pihak yang didemo.

Sering saya melihat pembaca koran menggerutu, “Apa maksudnya berita ini, tak jelas.” Berita mesti ditulis dengan kalimat yang jernih. Susunlah kalimat-kalimat tunggal, dan sebisa mungkin hindari memakai anak kalimat jika hal itu berpotensi membuat pembaca bingung.

 

Tips cara menulis berita #5: Fokus pada topik berita. Jangan melebar ke sana-sini.


Sejak meliput dan wawancara di lapangan, reporter koran sudah harus tahu apa topik atau sudut pandang laporannya. Bila memilih “nasib guru honorer berupah kecil”, maka temuilah pihak-pihak yang terkait dengan isu tersebut. Selain wawancara dengan guru, tanyai juga kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan, anggota DPRD dari komisi yang membidangi pendidikan, pensiunan guru, dll. Jangan malah anda hanya mengutip komentar aktivis LSM karena dia punya saudara yang baru diputus-kontrak sebagai guru honorer.

Kalau misalnya anda kesal melihat seorang pejabat yang suka berindehoi di kafe-kafe malam, maka liputlah itu secara khusus dan jangan selipkan pada berita bertopik lain, “Ditanya mengenai dugaan korupsi stafnya, Kepala Dinas yang sering berdisko di Tenda Biru ini mengatakan….” Terlalu nampak ‘kali tak dikasih amplop. Malu kita sebagai wartawan.

Tips cara menulis berita #6: Tulis dengan proporsional, jangan berlebihan.


Ini kelemahan banyak reporter koran di daerah. Fakta yang diaperoleh dari narasumbernya, katakanlah kejaksaan, adalah bahwa Kabag Umum sedang diselidiki terkait kasus dugaan penggelembungan dana pembelian seprai dan gorden rumah dinas bupati. Tapi kemudian ditulisnya dalam berita “Tapanuli Utara sarang korupsi”. Jika anda ingin menulis berita Tapanuli Utara sebagai sarang korupsi, maka beberkanlah sekian banyak data kasus korupsi di daerah itu.

Ada wartawan koran menulis berita “Dengan arogannya Camat menjawab via telepon bahwa…” hanya karena si narasumber berbicara ketus-ketus.

Sebaliknya reporter lain yang baru mendapat amplop tebal dari pejabat mengirim naskah berita ke redaksinya “Bupati yang sangat dicintai rakyatnya ini mengatakan…,” padahal si bupati baru saja ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan beberapa kali didemo warga.

Tips cara menulis berita #7: Periksa kalimat kutipan, pernyataan off the record, konfirmasi, dan “ucapan di kedai kopi”.


Jangan biarkan beritamu memiliki celah untuk digugat ke pengadilan. Jika harus menulis kalimat langsung, maka tulislah seperti apa adanya diucapkan oleh narasumber. Bila dia mengucapkan kalimat dalam bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, telitilah saat menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Saat melihat catatan atau mendengar rekaman wawancara, jika anda bingung atau lupa mana bagian informasi yang merupakan pernyataan off the record (tidak untuk ditulis) dan mana yang bukan, tunda dulu menuliskan bagian itu sebelum berhasil mempertanyakan kembali pada narasumber berita.

Si A menuding si B. Apakah anda sudah melakukan konfirmasi pada si B? Jika belum, jangan dulu menulis berita itu. Kalaupun harus, karena alasan-alasan tertentu, seperti deadline atau faktor kemenarikan topik berita, maka samarkanlah secara total identitas si B. Kalau si A menuding si B dalam tiga hal, maka konfirmasinya tidak boleh hanya menyangkut satu hal.

Wartawan koran duduk-duduk santai bersama pejabat dan politikus di kedai kopi, lalu ada seorang pejabat yang melontarkan pernyataan menarik, kemudian si reporter mengutip kalimat tadi dalam beritanya dengan menuliskan nama si pejabat. Jangan lakukan yang begini. Anda harus kembali menemui si pejabat untuk meminta izin apakah kalimatnya itu boleh anda kutipkan ke dalam berita.

Tips cara menulis berita #8: Yang terakhir, dan ini sangat mendasar: Patuhilah kode etik jurnalistik yang melarang wartawan melakukan plagiat atau menjiplak.


Jangan kira jika anda mengutip beberapa kalimat berita dari koran lain, atau menyadur bahan dari Internet, maka hal itu tidak akan ketahuan. Percayalah, cepat atau lambat akan ada pembaca yang komplain dan menyampaikannya kepada redaksi anda di kantor. Jika begitu, karir kewartawanan anda sudah sedang di ujung tanduk. Redaktur anda akan wanti-wanti untuk menerbitkan berita yang anda laporkan, dan koran lain pun akan berpikir keras untuk menerima lamaran dari wartawan tukang jiplak.


Disadur Dari : dsatria.wordpress.com
Sumber Foto : indepenpress.co.uk
Baca »